1
Apr 06
Singapore Maritime Week 2014 at Vivo City, Singapore. Padahal SG bukan negara maritim seperti Indonesia, tapi bisa buat mini expo bertemakan industri maritim dan sasarannya anak-anak. Interiornya bagus banget, madingnya Informatif dan menarik. Sayangnya pengunjung kurang antusias. Karena kebetulan ini dunia kerja saya, ya saya kasih dua jempol. 👍👍

Singapore Maritime Week 2014 at Vivo City, Singapore. Padahal SG bukan negara maritim seperti Indonesia, tapi bisa buat mini expo bertemakan industri maritim dan sasarannya anak-anak. Interiornya bagus banget, madingnya Informatif dan menarik. Sayangnya pengunjung kurang antusias. Karena kebetulan ini dunia kerja saya, ya saya kasih dua jempol. 👍👍


1
Mar 30
Enjoy your job, enjoy your trip, and making money. So you can happy-happy
Uncle Peter

3927
Mar 30
someday :3

someday :3


5
Mar 30

Cari Bini

Tulisan ini dipicu karena diskusi bersama beberapa orang yang sepantaran dengan saya, around 23-24 tahun. Banyak yang bilang kalo 20 something ini umur yang sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan yang tepat buat diri kita sendiri. Kita juga sudah tahu mana sajakah pilihan-pilihan yang tidak baik, sehingga kita dapat mengeliminasinya untuk memilih pilihan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain tentunya. Hidup memang sekali, tapi apa arti hidup kalo cuman buat diri sendiri. Sendiri ini bukan jomblo ya mblo, sensitif amat sih sama kosa kata sendiri *ngomong ke cermin sambil nunjuk-nunjuk*

Dari yang kami obrolkan dan diskusikan, saya menyimpulkan bahwa untuk mencari calon bini ini… kompleks ya… Ga bisa cuman hati aja yang dilibatkan, tapi akal pun ikutan main. Belum lagi hati dan logika orang tua, terutama seorang ibu bagi yang anaknya laki-laki dan seorang ayah bagi yang anaknya perempuan, juga ikutan main. Rasanya ga bakal ada benang merahnya.

Saya yang baru saja berumur 24 di 24 Maret kemarin (ceilah baru…sudah kali man. March 24 for 24 years old, azig), semakin menyadari bahwa makin kencangnya pertanyaan “Kapan nyusul kakak?” or “Pacarnya dimana? Orang Bandung ya? Orang Jakarta ya?” or “Kamu udah berkeluarga ya man? (oke muka saya memang boros, dan saya pasang DP Whatsapp sambil gendong Dastan, keponakan saya, tapi ga gitu juga keleus…) yang intinya adalah pertanyaan lanjutan dari kapan lulus, “Kapan Nikah?” *jeng-jeng….*

Tapi jika ditanya “Kapan Nikah?” saya jawabnya “26 tahun” walaupun saya belum kebayang bakal sama siapa dan apakah saya sendiri sudah siap menyongsong moment tersebut. Kalo ditanya kriteriamu seperti apa? Saya punya jawaban default “Dokter gigi, berjilbab, sudah pernah merantau minimal ke kota tetangga, bisa masak dan suka hewan punya nilai plus”. Nguomong ngene iki pancen wuenak kok. Hahaha… tapi saya punya alasan dibalik itu semua

Kenapa harus dokter gigi? Karena mama saya dokter gigi. Alat-alat mama saya tidak ada yang meneruskan. Anak pertama dan keduanya sudah jadi surveyor di kantor yang sama. Sisanya anak ketiga, yang masih kelas 3 SMA yang katanya ingin melanjutkan kuliah di IPB, which is not to being a dentist. Sempat seminggu lalu saya nyeletuk “Kenapa ga dijual aja sih ma alat-alatnya?” dan mama menjawabnya dengan culas dan cadasnya “Nggak, sayang man… mahal lo itu, siapa tau anak mama masih ada yang mau jadi dokter gigi, siapa tau nanti mama dapat bakal MENANTU dokter gigi. Kalo option itu semua udah abis, baru mau mama jual” *glek*

Kenapa berjilbab? Karena itu parameter paling dasar yang saya buat sendiri untuk menilai keislaman calon saya. Jika wanita tersebut sudah berjilbab, maka saya yakin dia lebih mau untuk belajar bersama saya tentang Islam. Karena dia akan mau mencoba belajar bersama saya tanpa excuse. Iya, saya beranggapan yang belum jilbapan itu kebanyakan excuse. Baru urusan jilbab aja udah susah, apalagi mau belajar Islam lebih dalam. Sekali lagi ini hanya judging dan pendapat. No offense girls :p.  Kadang juga ada yang nyeletuk “Kan nanti kalo setelah nikah bisa dibimbing perlahan untuk dijilbapin man” saya seringnya kasih jawaban yang sama “Enak aja, argo dosa maksiat istri juga saya tanggung semenjak Ijab Qobul. Justru harus jilbapan dulu, baru setelah nikah jilbabnya yang dipanjangin.”. Dan alangkah baiknya juga, calon saya nanti bukan penganut jilbab rempong EEE (Everyday, Everytime, and Everywhere), if you know what I mean.

Kenapa harus merantau? Karena dengan merantaulah wawasan seseorang akan terbuka. Wanita tersebut akan memiliki pemikiran yang lebih maju, pasti mempunyai cita-cita yang lebih tinggi. Sehingga bisa menyamakan suhu dengan saya yang hampir selalu membicarakan mimpi. Selanjutnya anak-anak saya nanti juga mempunyai dan berani bermimpi yang tinggi seperti orang tuanya. Orang-orang yang pernah merantau pasti tahu kenapa alasan harus merantau ini sangat penting.

Tapi dibalik kriteria-kriteria itu semua, balik lagi ke tujuan nikah ini sebenarnya buat apa. Tidak sekedar untuk mencari pendamping, teman, partner, sahabat, rekan seperjuangan sehidup semati. Tapi untuk apa dan siapa kalo bukan untuk Allah. Pacaran atau Taaruf? Aku yakin kita yang 20 something sudah cukup tahu mana yang benar dan salah dan mana yang baik dan buruk, bagaimana menyikapi fenomena ini.

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir, Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa" - Sudjiwo Tedjo

I can’t agree more with that quotes. *mendadak flashback sitik ke masa lalu* *lak mesiti, arek iki, golek geger karo atine dewe* Yang bisa saya dan jomblowan-jomblowati lakukan hanyalah tetap memantaskan diri menjadi yang lebih baik dan lebih dekat pada-Nya.

Loyang, Singapore, 30 March 2014


1
Mar 30
Wong ndeso, both of us and wicak who taken this picture. This is our first time to being here. And still amaze with those stunning landscape. And it made us forget about our primary purposes to here, not for travelling but software training. Sorry Starfix, we almost forgot about you all day long yesterday :)) (at Marina Bay)

Wong ndeso, both of us and wicak who taken this picture. This is our first time to being here. And still amaze with those stunning landscape. And it made us forget about our primary purposes to here, not for travelling but software training. Sorry Starfix, we almost forgot about you all day long yesterday :)) (at Marina Bay)


2
Mar 30
Andrew Garfield and Emma Stone. Holywood couple. I’m not a spiderman fans. But I’m a fanboy of Emma Stone since I saw her on Crazy, Stupid, Love. So you know how I lucky I am and how “ndeso” I am when I could saw her by chance last night. Yup, screaming… a lot… (at Marina Bay)

Andrew Garfield and Emma Stone. Holywood couple. I’m not a spiderman fans. But I’m a fanboy of Emma Stone since I saw her on Crazy, Stupid, Love. So you know how I lucky I am and how “ndeso” I am when I could saw her by chance last night. Yup, screaming… a lot… (at Marina Bay)